Pukul empat dini hari, aku terbangun di dalam sebuah tenda. Angin seakan membawa dingin meresap ke dalam tulang. Pagi ini aku terbangun di puncak sebuah gunung yang tersusun dari bebatuan kokoh layaknya karang. Merangkak naik selepas isya dengan modal keberanian seorang perempuan dan seorang sahabat perempuan. Kami naik menguji naluri dalam gelap, menyusuri tebing-tebing gunung yang sempit bermodalkan” insting” (aku lebih suka menyebutnya sebagai pendoman langsung dari Tuhan). Semacam dua orang perempuan aneh dan nekat tanpa bekal pengetahuan apa-apa (Ini sunggu tidak untuk ditiru).
Melewati hutan bukan perkara mudah, untungnya gunung ini adalah gunung wisata yang jalan setapak mudah ditemui. Tapi terkadang disodorkan dengan jalan setapak yang beragam entah menuju ke utara, selatan, barat dan timur, sedikit memusingkan. Maka pada kala itu, dalam gelap dan suara bising binatang malam, hanya pedoman Tuhan lah yang mampu diandalkan, dan kala itu juga kehadiran Tuhan seakan betul-betul nyata. Toh pada dasarnya, aku memang datang ke banyak tempat ini untuk mencari-Mu. Berceloteh ria tentang arti hidup yang dan kelelahan luar biasa pada dunia yang sedang dipijak.
Tas sudah terasa amat berat, baju telah basah oleh keringat dan kami ingin segera sampai pada puncak yang entah dimana. Pada titik ini aku belajar, aku belajar arti sabar. Bahwa sabar harus ada, sabar harus dengan ikhlas tanpa basa-basi keluhan yang tidak pernah menyelesaikan masalah. Toh sebanyak apa pun aku mengeluh, aku harus tetap sampai ke puncak malam ini. Aku tidak mau menjadi pengecut yang menyerah turun dan kembali ke bawah tanpa hasil apa-apa. Tidak.
Aku juga belajar untuk istirahat, berhenti sejenak bukan menyerah. Berhenti untuk mengumpulkan tenaga kembali dan siap menghadapi yang lebih berat. Karena dalam hidup, menyerah tidak pernah ada dalam kamus manusia. Bahkan sebelum manusia dilahirkan, ia pernah berjanji kepada Tuhannya untuk tidak menyerah menjalani hidup sesulit apapun itu. Dan berhenti sejenak tidak sama dengan menyerah. Berhenti adalah strategi dan menyerah adalah kalah.
Tapi saat itu kami amat lelah, dan Tuhan tau itu. Tiba-tiba sebuah cahaya dari belakang mendekat perlahan. Sekelompok anak muda datang dan seperti memiliki tujuan sama. Mencapai puncak. Aku tidak pernah tau apa yang akan terjadi jika kami berdua tidak bertemu dengan mereka. Karena sekitar lima menit perjalanan yang akhirnya kami putuskan bergabung dengan kelompok mereka, kabut tebal mulai datang dan pandangan mulai kabur. Beruntung salah seorang dari mereka sangat faham dengan trek yang sedang dilalui.
“Jangan belok ke kanan!, itu sumber mata air. Kita ambil kiri tuk ke puncak”.
“Jangan ke puncak utara, jangan ke kiri. Kita ambil kanan, di puncak utara kita ga bakal bisa masang tenda”. Dan belasan komando lain yang sangat menyelamatkan kami berdua kala itu. Terima kasih Tuhan, kami bahkan tidak memiliki apa-apa untuk berterima kasih pada-Mu.
Pukul setengah sepuluh malam, kami sampai puncak. Mendirikan tenda dan duduk beberapa jam menikmati api unggun yang sedang menyala. Mendengarkan nyanyian-nyanyian pada pemuda tentang alam, cinta dan kehidupan. Dinginnya angin dan badan yang kelelahan seperti tidak bisa diajak kompromi. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat lebih awal. Dan kini aku sudah terbangun, menatap rona merah matahari yang akan keluar dari balik gunung. Sampai akhirnya ia keluar, dan mengingatkan manusia untuk kembali menghadap Tuhannya, kembali meletakkan sujud dimana pun mereka berada.
Siang itu matahari begitu terik. Entah mengapa musim panas di Negeri Jiran terasa amat sangat menyengat kulit dari pada di negeri sendiri. Aku terduduk di sebuah halte bis. Menunggu bis kampus lewat dan membawaku ke dorm. Bayangan air dingin dan sejuknya kamar sudah terasa di depan mata. Lelah sekali, ingin cepat pulang dan berdiam diri di kamar. Tapi menit yang berlalu tidak kunjung membawa bis mendarat di depan mata, malah akhirnya membiarkan angan fikiran melayang beberapa kilometer jauhnya ke tanah air. Rindu rumah, rindu Jogja, rindu hidupku di sana. Air mata ini serasa sudah mulai menggantung di pelupuk mata, berbaris dan siap meluncur ke luar. Tapi kemudian kamu datang, membuatnya masuk kembali dengan sapaan dan senyum itu. Ya, aku mengenalmu tidak lebih dari satu bulan sebagai teman satu kelas. Kita berbeda ras tentu saja, rasmu adalah ras yang terkenal dengan pekerja keras, bermata sipit dan berkulit putih. Dalam kekompleks’an pergaulan antar tiga ras di Negeri Jiran, aku tidak melihatnya dalam dirimu. Toh kamu dengan ramahmu mampu bergabung dengan siapa pun tanpa melihat ras, agama, warna kulit dan bahasa. Dan dengan sifat itu pula kamu berani menyapaku yang tengah duduk menunggu bis. Dan dengan pekamu kamu mampu membaca suram yang ada di wajah ini. Kita berbincang mungkin tidak lebih dari sepuluh menit sampai bis akhirnya datang. Perbincangan tapi serasa sudah melebar kemana-mana. Membawa senyum dan tawa kembali pada wajah ini. Di ujung perbincangan beberapa anak perempuan satu kelas datang menghampiri. Dan kamu langsung menyambut mereka dengan ramah. Kamu menyuruh mereka mengajakku pergi. Melupakan sedih dan rindu sejenak pada tanah air dengan menikmati sedikit keindahan menara kembar atau objek wisata lainnya di negerimu ini. Salah seorang anak perempuan yang menangkap keakraban kita bertanya, mengapa bukan kamu sendiri yang mengajakku pergi. Dengan senyum itu kamu menjawab polos bahwa kamu tidak berani mengajakku karena hal itu dilarang. Islam melarang laki-laki dan perempuan yang tidak bersaudara berjalan berduaan.
Semua terdiam termasuk aku, sampai akhirnya kedatangan bis membuyarkan lamunan kami. Entahlah, tapi aku masih tidak percaya dengan hal yang baru saja aku dengar. Kamu, yang jelas-jelas bukan muslim mengatakannya dengan tegas sambil tersenyum lembut. Pada ujung waktu di hari itu, sebelum kamu pergi, kamu berkata “Aku lelah harus disibukkan dengan studi yang tidak kunjung usai. Suatu saat aku pasti punya waktu tuk mencari Tuhanku sendiri. Kamu beruntung memiliki agama yang baik, dan bagiku islam mengajarkan hal yang baik dan indah. Semoga suatu saat aku menemukan Tuhanku seperti kamu yang sudah menemukan-Nya”.
Hari itu di dalam kamar, aku memandang langit-langit kamar dan tidak berhenti memikirkan kejadian tadi siang. Sebagai perempuan, untuk pertama kalinya aku merasa amat sangat dihormati dan dihargai. Dan sebagai manusia aku merasa Tuhan benar-benar ada.
Sebuah cerita dari Negeri Jiran,
Lupa tanggal berapa itu terjadi, tapi yang jelas itu hari kamis.
Ah, lega banget akhirnya bisa nulis lagi. Hi Liz, maaf menunggu lama dengan kisah Bali yang sempat terpotong sampai berminggu-minggu. Kali ini cerita lain tentang pelajaran dari Bali. Bali itu unik Liz, dan orang-orang yang ada didalamnya yang membuat ia unik. Ideologi yang tertanam kuat, sampai awig-awig yang membuatku terkagum, rasanya konsep community base management yang ditawarkan pada dunia ilmu pengetahuan akan semakin mantab dengan awig-awig ini.
Selain itu, di Bali, aku belajar. Aku belajar bahwa aku tidak ingin kehilangan hidup dan mimpi. Aku belajar tentang rasa penat yang harus dilakukan saat melakukan hal yang tidak ingin kamu lakukan. Dan akhirnya sedetik kemudian tersadar bahwa masa ini amat begitu berharga. Ya, masa saat kamu bisa melakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Bebas, tanpa ada yang menghalangi. Tidak terikat dan dapat menulis keinginan sebanyak apapun itu. Ah, ingin rasanya tetap begini.
Di bali aku belajar jadi orang dewasa Liz, dan rasanya tidak enak, sama sekali. Setiap hari harus menghabiskan waktu di meja kerja, pagi sampai sore. Malam hari, rasanya tidak ingin pergi kemana-mana karena sudah terlalu lelah. Orang dewasa yang penuh dengan tanggung jawab dan tuntutan hidup. Entah mengapa, saat itu uang menjadi tolak ukur dan segalanya. Uang menjadikanmu harus melakukan apa yang sebetulnya tidak ingin kamu lakukan. Bahkan kehilangan rasa untuk bekerja yang tujuannya entah apa, mencari uang?, dan atau hanya mencari uang?.
Untuk itu aku berharap, semoga saat dewasa aku tidak kehilangan arah hidup ya Liz. Paling tidak hidupku bukan hanya untuk sekedar mencari uang. Uang dan uang.
Tapi aku beruntung Liz, karena Tuhan mempertemukanku dengan banyak wajah yang memberi ceria. Wajah yang sedetik kemudian seperti keluarga sendiri karena sama-sama perantau di daerah orang. Dan dari wajah tersebut aku kemudian bertemu seorang ibu, yang berjuang untuk mendirikan sekolah kanak-kanak berbasis Islam. Ah, rasanya mimpi semakin dekat…
Dan karenannya lah aku memiliki janji lain untuk kembali ke Bali. Janji untuk membantu si ibu mengajar anak-anak, sekaligus berguru kepadanya. Doakan ya Liz, doakan semoga aku bisa menjadi guru yang baik. Semoga saja..